Showing posts with label Cerpen (Short Stories). Show all posts
"Dear Diary, hari ini aku
merasa sangat senang, entah mengapa :D Pagi-pagi ku bangun dengan udara segar
saat ku buka jendela kamar. Mataku terbelalak ke meja belajar, melihat nasi
goreng, salad buah, dan jus alpukat sudah siap untuk disantap. Pasti ibu
sengaja menyiapkan pagi-pagi ini untukku. Wajar saja, kemarin aku nggak makan
malam karena kebawa bad mood
gara-gara berantem sama kak Shafira. Ughh..
jahat pol!! Lalu, ku kunci pintu kamarku, memastikan agar kakak nggak
ngganggu dan agar kucingku tidak masuk kamar dan melas-melas minta makan.
Haha... perfect!" tulis Sheila
di buku hariannya.
"Dok! Dok! Dok! Sheilaa..
cepetan buka pintunya!!" kakakku yang sangat amat super duper
menjengkelkan, membuatku kaget setengah mati sampai tersedak saat ku cicipi
suapan pertama.
"Uhuk! Uhuk! Bentar ta, kak!!
nggak tau apa, kalo aku lagi enak-enak breakfast?!"
bentak Sheila dengan memasang muka kecut di depan kakaknya.
"Cih, jangan sok bule, lu! Itu tuh, ada Barbie film kesukaan lu!" kata
Shafira yang menunjuk ke arah TV. Sheila pun cepat-cepat keluar kamar, takut
ketinggalan serial episode Barbie, yang selama ini lama tak muncul di TV.
"Horee, ada Barbie! Lo... tapi
mana kak? Kok nggak ada?" Sheila mencoba untuk mengganti-ganti channel TV. Ia tampak seperti orang
kebingungan karena tak dapat menemukan film kesukaannya.
"Hahahaha! Satu monyet telah
tertipu, maafkan aku, kasihan deh luu ♪!!" tipu Shafira pada adiknya
dengan tertawa terlingkal-pingkal. Sheila pun marah.
"Iiiihh.... dasar kak Fir'aun!!
Awas ya! Sheila nggak mau percaya lagi sama kakak!" Sheila pun mencakar
pipi kakaknya karena telah membuatnya kesal.
"Aaaaau! Sakit tauk! Huh,
biarin aja, salahmu sendiri yang kemarin ngasih banyak garam ke jusku!"
bentak Shafira ke adiknya. Adiknya menangis dan mengadu ke ibunya.
"Huaa... mama... kak Shafira
nakal.."
"Shafira! Kamu apakan adikmu
sampai pipinya merah semua gini?! Kalian ini... setiap hari bertengkar saja!
Shafira! Kamu itu sebagai kakak harus jadi contoh yang baik ke adikmu! Cepetan
maaf ke adik!" pinta ibu mereka.
"Lo, tapi kok aku Maa?
Seharusnya adik dulu dong, adik yang masukin garam ke jusku dulu, Maa!!"
kata Shafira tak mau kalah.
"Nggak ada tapi-tapian!! Cepat
maafan!" kata sang ibu. Dengan terpaksa, Shafira mengulurkan tangannya
untuk minta maaf ke adiknya, namun ia tak ikhlas.
"Maaf!" kata Shafira singkat.
"Huh!" balas adiknya,
dengan mengulurkan tangannya pula.
***
Huh, gitu deh. Gua benci sama adik
gua sendiri. Setiap hari selalu aja jadi trouble-maker
hidup gua. Yang nyoret-nyoretin tugas PRku lah, nambahin garam ke minumanku
lah, ngotorin seragamku lah, nyembunyiin sepatu sekolahku lah, matiin alarmku
lah, ahh pokoknya banyak banget! Karena itu, aku jadi sering dimarahin guruku
karena terlambat, cuma gara-gara nyariin sepatu sebelah kiriku yang diumpetin
adik. Hah, adik? Sebenernya males gua manggil dia sebagai adik. Tapi karena
dipaksa sama ibu, jadi gua harus gitu. Pokoknya males banget ngakuin berdarah
daging sama dia! Disuruh ngambilin kacamataku yang ketinggalan aja ogah.
Harusnya kan sang adik berbakti pada kakaknya, kan? Dan ujung-ujungnya waktu
aku ngerjain adik dikit aja, gua yang kena marah ibu! Aku lagi! Aku lagi! Adik
nggak pernah dimarahin ibu, padahal adik yang memulai perang! Hiiihhh dunia ini
serasa gak adil! Namun, aku tetap sayang sama ibuku alias mamaku karena beliau
adalah sosok ibu yang tangguh, peduli, dan penuh kasih sayang.
*Sore harinya...*
"Bu, Fira pamit dulu, ya. Mau
ke rumah Salsa untuk ambil buku. Assalamu'alaikum!" kataku sambil mencium
tangan ibuku.
"Wa'alaikumsalam. Iya...
hati-hati di jalan!" balas ibu. Aku pun bergegas mengambil sepeda ontel
kesayanganku, dan meluncur ke rumah temanku yang namanya Salsa. Yap, seperti
biasanya, aku yang bisa dibilang ceroboh sering meninggalkan buku pelajaran
seusai kerja kelompok.
"Tok! Tok! Tok!
Sal...sa..." panggilku di depan pintu yang masih tertutup.
"Kreeek..." suara pintu
membuka dengan perlahan dan ku lihat, loo.. tadi siapa ya yang buka ? eh,
ternyata yang buka adiknya Salsa yang tingginya jauh lebih pendek dariku.
"Eh, ada kak Fira... silahkan
masuk kak, tunggu mbak Salsa ya, dia masih mandi." kata Fatimah, adik
kecil Salsa yang sangat sopan.
"Assalamu'alaikum." kataku
dengan memasuki ruang tamu perlahan.
"Wa'alaikum salam. Duduk dulu
ya, kak." balas Fatimah. Shafira pun melihat sekeliling foto di ruang
tamu. Di sana, terpajang foto besar yang bergambarkan Salsa dan adiknya yang
terlihat saling rukun dan akur dengan senyuman cantik mereka berdua. Di samping
foto itu pun, Fira melihat rajutan halus yang tidak asing lagi karya Fatimah
yang bergambar dua bunga cantik. Di pojok foto tertuliskan 'untuk kak Salsa
yang tersayang. Selamat ulang tahun yang ke-16 ya!' Shafira pun terbayang
dengan sosok adiknya. Ia sempat terharu dengan foto dan lukisan itu. Tak lama
kemudian, datanglah Fatimah yang sedang membawa tiga cangkir sirup dan sekotak
kue brownies.
"Silahkan dimakan kuenya dan
diminum sirupnya, ya kak!" kata Fatimah dengan senyum lebarnya. Shafira
pun kagum pada adiknya Salsa. Ia pun meminum sirup yang telah dibuatkan oleh
Fatimah.
"Makasih ya, dik. Hmmm... manisnya
pas. Apa sirup ini kamu yang buat?" tanya Fira.
"Hehe... iya, kak. Syukurlah
kalau manisnya pas." balas Fatimah. Mendengar itu, Fira pun ingin bertanya
pada Fatimah. Sebuah pertanyaan yang ingin sekali ia tanyakan.
"Dik, kakak mau tanya. Kenapa
sih kamu kok mau nyiapin makanan dan minuman ini untuk aku? Padahal aku kan
tamunya kakakmu?" tanya Fira.
"Tamu kakakku itu tamuku juga,
kak. Ini sudah biasa kok. Saat aku kedatangan tamu dari temanku, kak Salsa juga
membantuku untuk menyiapkan jajanan buat tamuku. Saat aku dalam keadaan susah
pun, kak Salsa sering membantuku. Pokoknya, kita tu saling membantu dalam
keadaan apa pun." jawab Fatimah dengan bangganya. Ia terlihat senang
sekali mempunyai kakak yang bernama Salsa. Mendengar itu, Fira pun merasa bersalah
pada adiknya. Ia teringat pada kata guru Fisikanya bahwa hal yang dialaminya
itu berkaitan dengan Hukum Newton ke-3 yakni 'sebab-akibat'.
"Selama ini aku nggak pernah
menunjukkan rasa peduli pada dik Sheila. Aku jadi tahu bahwa apabila aku baik
ke adikku, care, dan mau menolongnya,
pasti dia akan care, nggak usil,
menolongku, dan baik ke aku," kata Shafira dalam hati. Rupanya, ia telah
sadar sekarang.
"O iya, kak... ini buku Biologi
kakak. Tadi, katanya kak Salsa mendadak disuruh ibu ke pasar lewat gerbang
belakang, lalu ia menitipkan buku ini ke aku. Maaf ya kak, kak Salsa harus
segera ke pasar soalnya nanti mau ada acara di rumah ini... Jadi ya harus beli
ini itu untuk cepat dimasak." gumam Fatimah.
"Ah, nggak-papa, kok. Kalau
begitu, makasih ya, cantik! Kakak pamit dulu. Assalamu'alaikum!" kata
Shafira pada Fatimah. Fatimah pun pipinya memerah.
"Hehe... sama-sama, kak!
Wa'alikumsalam. Hati-hati ya, kak! Kapan-kapan main kesini lagi lo,
ya...." pinta Fatimah dengan senyuman dari bibir kecilnya.
"Pasti dong! Dadaa~"
"Daa~"
Shafira pun bergegas menuju toko
boneka barbie. Di sana, ia belikan adiknya sebuah boneka barbie cantik,
berambut pirang, dan bermata biru. Ia akan memulai hubungan baik pada adiknya.
Ia yakin, adik akan merasa senang. Ia pun bertekad untuk menjadi contoh kakak
yang baik. Lalu, ia pun memancal pedal sepedanya menuju ke rumahnya.
Sesampainya, ia buat kejutan ke adiknya.
"Ciluuuk... Baaa!" Shafira
menutup mata adiknya dan langsung melihatkannya sebuah boneka Barbie kesukaan
adiknya.
"Barbie!!! Hore... makasih, kak
Fira... Sheila sayang kakak!" Sheila langsung memeluk kakaknya dengan
penuh tawa yang selama ini jarang Fira lihat. Fira pun ikut senang dan mengelus
rambut adiknya. Dia terkejut bahwa adiknya akan memeluknya. Hari demi hari
telah berganti. Suasana rumah jadi semakin nyaman. Tak ada tengkar, suara
teriak, dan luka. Kini, Shafira dan Sheila adalah sepasang kakak-adik yang ceria dan saling membantu. \(^-^)/
Catatan : Sesama saudara, harusnya saling rukun. Sejatinya, mereka adalah orang yang mau mengerti keadaan kita. Kita pun harus menghargai dan menolong mereka. (^∇^)
TAMAT
By : Alsy Taqiya Herasafitri
Saling Membantu
Tag :
Cerpen (Short Stories)
Read Post : Saling MembantuMay 11, 2017
Author : Alsy Taqiya
Comments : 0
Tag :
Cerpen (Short Stories)
Read Post : Saling MembantuMay 11, 2017
Namaku
Phei. Tinggal di sebuah desa pinggiran di Thailand. Orang tuaku bekerja sebagai
penulis. Huh, entah mengapa, aku tidak begitu tertarik dalam menulis. Tak sama
dengan adik-adikku yang setiap hari selalu meluangkan waktunya untuk menulis.
Rumah adalah neraka bagiku. Setiap hari, aku selalu dipaksa untuk menulis oleh
orangtuaku, terutama ibuku. Aku dibeda-bedakan kedua orang tuaku dengan adikku
lain. Kesal. Sangat kesal. Aku bingung, mengapa mereka tertarik dalam menulis.
Padahal, hasil karya tulisan mereka seringkali ditolak mentah oleh penerbit
buku, tapi kenapa mereka tetap menyukai pekerjaan yang membosankan itu?!
Bahkan,
ayahku yang telah kehilangan kedua tangannya sejak aku kecil, masih memaksakan
menulis dengan kakinya. Aku yang memiliki ayah seperti itu, menjadi bahan
olok-olok temanku di sekolah. Terpaksa ku tak mengakui bahwa dia adalah ayahku.
Walaupun ia sayang padaku, aku membencinya. Beda dengan ibuku yang justru
semakin galak tiap harinya. Di saat aku butuh support, ia malah men-judgeku
dengan membeda-bedakan adikku yang lain yang sok rajin menulis novel di depan
orang tuaku. Cih, tapi ya memang rajin sih.
“Memang
tidak ada kah pekerjaan lain selain menulis?” kataku pada mereka setiap mereka
memaksaku menulis. Setiap ku coba untuk menulis, aku tidak memiliki imajinasi
yang tajam sehingga yang ku tulis hanya kata-kata bodoh yang tak bermakna. Aku
pun juga merasa aneh dengan sebuah pena yang diberikan oleh orang tuaku. Saat
aku tidur, pena itu selalu mengikutiku dan berubah menjadi sebuah pena yang
amat besar dan tajam yang selalu memberikan aku selembar kertas dan memaksaku
untuk menulis dengan pena itu sendiri. Saat itulah, suara aneh menghantuiku berulang-ulang kali. “Menulislah nak, karena dengan itu kau akan
mengerti…”
“Mau
kemana? Pakai jaket dulu nak, di luar sangat dingin!” Ayah berbicara denganku
sambil menyeruput kopi yang disuapkan oleh adikku. |
“Tidak, ayah! Aku bukan anak kecil lagi. Aku mau ke mana saja ke tempat yang ku suka! Aku muak di sini!” balasku mentah pada ayah. Aku melangkah ke arah yang ingin kutuju. Di tengah jalan, aku bertemu dengan sekumpulan temanku yang menatapku sinis,
“Hei lu, anak orang cacat! Mana bakat loe menulis pake kaki? Ha-Ha-Ha! Dasar ga tau diri!” Mereka mengolok-olokku dengan membawa-bawa ayahku.
“Siapa kalian! Enak aja, aku tak punya ayah cacat! Minggir!” kataku spontan.
“Halah, anak orang kismin aja, HAHA! Lihat, HP gue baru nih. Gak kepingin? Ini HP bersistem paling canggih ‘n gak kalah nge-trend sama HP jadulmu!” tunjuk Roy, anak orang terkaya di desa itu.
Aku pun tak menghiraukan kata-kata mereka dan berjalan terus untuk menemukan tempat yang cocok dengan mood-ku sekarang. Tetapi, aku tetap terbayang oleh kata pedas mereka di sepanjang jalan. Rasanya, aku tak menerima kepahitan hidupku ini.
“Tidakkah ada yang senasib denganku?!” Sejenak ku melewati rumah gubuk tua yang sangat jelek dan di dalamnya terlihat ada sosok ibu, ayah, dan seorang anak yang sangat kurus kering kerontang dibanding dengan keadaan keluargaku. Aku menyadari bahwa di sana ada banyak orang yang lebih parah nasibnya daripada aku. Tetapi, tetap saja. Kata-kata mereka yang telah membuat telingaku panas tetap saja melintas di pikiranku. Tanpa sadari, aku telah berjalan jauh ke tengah kota.
”Aku benci pulang ke rumah! Aku benci mereka! Benci orang tua! Benci semua! Benci diriku!” Aku tak tahu arah. Ku tersesat. Tanpa ku sadari, aku telah berada di tengah jalan, dan…
“HONK-HONK~ ! HONK-HONK~!!”
“Brakk!”
“Tidak, ayah! Aku bukan anak kecil lagi. Aku mau ke mana saja ke tempat yang ku suka! Aku muak di sini!” balasku mentah pada ayah. Aku melangkah ke arah yang ingin kutuju. Di tengah jalan, aku bertemu dengan sekumpulan temanku yang menatapku sinis,
“Hei lu, anak orang cacat! Mana bakat loe menulis pake kaki? Ha-Ha-Ha! Dasar ga tau diri!” Mereka mengolok-olokku dengan membawa-bawa ayahku.
“Siapa kalian! Enak aja, aku tak punya ayah cacat! Minggir!” kataku spontan.
“Halah, anak orang kismin aja, HAHA! Lihat, HP gue baru nih. Gak kepingin? Ini HP bersistem paling canggih ‘n gak kalah nge-trend sama HP jadulmu!” tunjuk Roy, anak orang terkaya di desa itu.
Aku pun tak menghiraukan kata-kata mereka dan berjalan terus untuk menemukan tempat yang cocok dengan mood-ku sekarang. Tetapi, aku tetap terbayang oleh kata pedas mereka di sepanjang jalan. Rasanya, aku tak menerima kepahitan hidupku ini.
“Tidakkah ada yang senasib denganku?!” Sejenak ku melewati rumah gubuk tua yang sangat jelek dan di dalamnya terlihat ada sosok ibu, ayah, dan seorang anak yang sangat kurus kering kerontang dibanding dengan keadaan keluargaku. Aku menyadari bahwa di sana ada banyak orang yang lebih parah nasibnya daripada aku. Tetapi, tetap saja. Kata-kata mereka yang telah membuat telingaku panas tetap saja melintas di pikiranku. Tanpa sadari, aku telah berjalan jauh ke tengah kota.
”Aku benci pulang ke rumah! Aku benci mereka! Benci orang tua! Benci semua! Benci diriku!” Aku tak tahu arah. Ku tersesat. Tanpa ku sadari, aku telah berada di tengah jalan, dan…
“HONK-HONK~ ! HONK-HONK~!!”
“Brakk!”
***
“Di
mana ini? Aku di mana? Siapa kau?” ku berkata lemah pada seorang laki-laki muda
yang mengenakan jas putih dan membawa peralatan medis.
“Arrrgh.. sakit. Ada apa dengan tangan kiriku?” kataku dalam hati.
Aku dihantui dengan beribu-ribu pertanyaan terhadap aku sendiri. Lalu aku menangis. Ku sadari bahwa aku telah tertabrak truk tadi siang. Merasa kesakitan, ku coba untuk tidur tanpa kata terucap lagi. Aku bermimpi. Butiran-butiran debu terpajang jelas ke arahku. Dan pena itu… lagi-lagi muncul di mimpiku. Ayah dan ibu di sana. Mereka menambil pena itu yang nampak patah. Mereka menangis dan terisak dengan kepatahan pena itu yang kemudian mereka simpan. Tiba-tiba ku mendengar jeritan mereka memanggil namaku.
“Phei… Phei…!! Anakku, Phei…!!” Aku tersontak dan terbangun. Ku rasakan sakit. Ku lihat di luar jendela yang telah gelap. Ternyata, matahari telah berganti bintang. Ku lihat ada dua orang yang duduk di samping kanan dan kiri kasurku. Mereka ayah dan ibuku yang tertidur dengan air mata yang masih berlinang. Ku coba untuk berbicara, namun tak bisa. Kondisiku yang sangat lemah ini membuatku sulit menggerakkan semua anggota badanku termasuk mulutku. Dalam hati ku berkata, “Ayah… ibu… maafkan aku, yang telah membuat kalian semakin susah.”
“Arrrgh.. sakit. Ada apa dengan tangan kiriku?” kataku dalam hati.
Aku dihantui dengan beribu-ribu pertanyaan terhadap aku sendiri. Lalu aku menangis. Ku sadari bahwa aku telah tertabrak truk tadi siang. Merasa kesakitan, ku coba untuk tidur tanpa kata terucap lagi. Aku bermimpi. Butiran-butiran debu terpajang jelas ke arahku. Dan pena itu… lagi-lagi muncul di mimpiku. Ayah dan ibu di sana. Mereka menambil pena itu yang nampak patah. Mereka menangis dan terisak dengan kepatahan pena itu yang kemudian mereka simpan. Tiba-tiba ku mendengar jeritan mereka memanggil namaku.
“Phei… Phei…!! Anakku, Phei…!!” Aku tersontak dan terbangun. Ku rasakan sakit. Ku lihat di luar jendela yang telah gelap. Ternyata, matahari telah berganti bintang. Ku lihat ada dua orang yang duduk di samping kanan dan kiri kasurku. Mereka ayah dan ibuku yang tertidur dengan air mata yang masih berlinang. Ku coba untuk berbicara, namun tak bisa. Kondisiku yang sangat lemah ini membuatku sulit menggerakkan semua anggota badanku termasuk mulutku. Dalam hati ku berkata, “Ayah… ibu… maafkan aku, yang telah membuat kalian semakin susah.”
Di
genggaman tangan ibu kulihat ada sebuah buku berwarna merah marun yang tak
pernah ku ketahui sebelumnya. Aku mencoba untuk mengambilnya dengan tangan
kananku perlahan-lahan dan dalamnya berjudulkan sepucuk cerita perjalanan hidup
ayah dan ibuku. Pada halaman pertama, ku temukan bahwa ayah dan ibu yang
sama-sama orang Thailand, bertemu pertama kali di luar negeri, yakni negara
Italia saat mereka dipilih menjadi penulis terbaik yang telah mengarang lebih
dari 50 buku tentang berbagai macam topik terhangat. Aku salut pada mereka. Di
foto tertuliskan “Our Sweet Journey.”
Entah mengapa, aku jadi membeku saat melihat foto mereka saat muda. Di halaman
itu juga tertuliskan bahwa mereka menikah di sana dan tinggal di Roma selama 5
tahun. Tak disangka, ternyata aku lahir di Roma, Italia. Mengapa aku baru tahu
sekarang? Mengapa mereka tak menceritakannya padaku? Aku yang berusia 15 tahun
sekarang baru mengerti tempat lahirku. Di halaman itu terdapat fotoku dan ayah
ibu yang mencium pipiku. Aku tersentuh dan merasakan kasih sayang mereka yang
sangat besar.
Pada
halaman kedua, ada sepatah cerita ayah. Walau tulisannya agak pudar, aku tetap
dapat membacanya. Cerita itu menceritakan tentang perjalanan pulang dari
Italia.
Minggu,
23 Oktober 1839
Pagi
itu basah ditetesi oleh salju,
mengiringi perjalanan pulang kita. Salju terus turun. Tumpukan-tumpukan putih
berkilauan di pinggir jalan, membentuk bukit-bukit kecil di sepanjang jalan
raya dan jalur pejalan kaki Roma. Tiba-tiba angin kencang datang, pertanda ada
badai menghempur. Kita dan Phei yang sedang menaiki mobil mini kala itu
khawatir dan memikirkan jalan keluar. Tiba-tiba pohon besar menimpa mobil dan
memecah kaca mobil. Segera ku peluk kalian… Ku tak ingin kau dan Phei terluka.
Darah bercucuran sekujur tubuhku. Ku tahan sakit meski harus kehilangan kedua
tanganku. Bagiku, itu lebih baik daripada kehilangan kedua orang yang sangat
kusayangi…”
Hiks. Aku terisak oleh cerita yang
ditulis ayah dengan kakinya karena terlihat jejak kaki di cerita itu. Hiks. Air
mata terus bercucuran membasahi pipiku. Ya Tuhan… betapa besarnya pengorbanan
ayahku. Aku tak bisa berkata apa-apa. Ku merasa bahwa akulah makhluk terkejam di
bumi ini. Ku telah menyakiti perasaan ayahku yang cacat hanya karena ingin
menghindari olokan teman-teman. Seharusnya aku bangga pada ayah, yang telah
berkorban untukku dan ibu. Padahal di balik semua itu... Hiks.. Aku kejam! Ku
pandangi wajah ayahku yang tertidur di samping kananku. Terlihat sosok wajahnya
yang lelah. Oh ayah, oh ibu, maafkan Phei yang menambah beban kalian. Segera
setelah itu, ku buka halaman ketiga yang menceritakan tentang ayah dibawa ke
rumah sakit dan harus mengeluarkan biaya yang sangat besar. Karena itu,
kekayaan ayah ibuku yang semula berasal dari kejayaannya sebagai penulis
terkenal di seluruh penjuru dunia, habis ludes. Ayah masih bisa diselamatkan di
tengah darah yang banyak hilang, tetapi ia harus kehilangan kedua tanganya. Di
situ tertuliskan bahwa semenjak kejadian itu, ayah dan ibuku tidak dikenal oleh
penulis lainnya karena ketidaksanggupan menerbitkan buku best-seller lagi dan karena terpuruk oleh kemiskinan. Membaca itu,
aku jadi kasihan pada ayah dan ibuku. Mata mereka yang walau tertutup, nampak
berkas cahaya yang yang tetap ada untukku saat ku terjerat dalam kegelapan.
Ku buka
halaman berikutnya. Di lembaran itu nampak tinta baru yang mungkin saja baru
ditulis. Aku terkejut. Ternyata, semenjak kepergianku hari-hari kemarin, ibu
telah dinobatkan menjadi penulis tersukses ke-3 di Asia Tenggara. Beliau
memenangkan rubrik cerita tentang perang dunia dari zaman ke zaman dan sebuah
cerita fiksi yang menginspirasi banyak orang di berbagai kalangan dunia. Tak
kusangka. Selama ini, aku memang jarang sekali berkomunikasi dengan ibu. Dari
dulu, aku menganggap ibu sebagai orang yang super galak hanya karena ocehannya
padaku yang sebenarnya itu adalah nasehat baik untukku. Anak apa aku ini? Ku
baru menyadarinya betapa diriku ini telah menyusahkan mereka. Ku teringat
keadaanku sekarang, lalu, untuk biaya operasiku, apakah ini akan membuat ibu
sedih yang harus merelakan hadiah kejayaannya sebagai penulis terbaik tahun
ini? Tak habis ku pikir. Di lubuk hatiku yang sangat dalam ini, ingin rasanya aku
membuat mereka tersenyum selama ini. Aku telah bertekad untuk menjadi anak baik
dan mencontohkan yang baik pula pada adik-adikku. Aku tak ingin menyusahkan
kedua orang tuaku. Aku bangga memiliki ayah dan ibu. Mereka pahlawan sejatiku.
Aku tak akan malu pada temanku bila aku anak mereka. Akan ku buat mereka
bahagia sebelum malaikat maut menjemput mereka. Aku beruntung masih mempunyai
mereka. Aku sangat menyayangi mereka. Oleh karena itu, oh ayah, oh ibu, akan ku
rangkai dan ku hias sebuah pena menjadi sebuah buku. Ya, aku ingin meneruskan
perjuangan mereka sebagai penulis. Sekali lagi, ku ucapkan dari lubung hatiku,
Ayah... Ibu... ku mohon, maafkanlah aku.
Catatan : Hormatilah kedua orang tuamu dan sayangilah mereka. Kita tak pernah bisa menghitung betapa mahalnya jasa dan pengorbanan mereka.
Catatan : Hormatilah kedua orang tuamu dan sayangilah mereka. Kita tak pernah bisa menghitung betapa mahalnya jasa dan pengorbanan mereka.
TAMAT
By : Alsy Taqiya Herasafitri
The cold night comes with a loud
thunderstorm outside. Drop by drop of water finally makes the city wet. Dooar!
Doooar!!
“Ow yeah! It’s raining cats and dogs,” said Carl
while remembering the last English idiom lesson. Then she threw her notebook
and continued to spend much time sitting down, watching TV, and really had
nothing to do. She enjoyed it everytime.
“Stop being couch potato! Get up and do something
productive, my dear Carl!” said Carl’s mother, Mrs. Humbood. She turned off the
TV. She didn’t want to let her only daughter to be lazy.
“Please, mum! I’m so bad mood today... and I’m not a
lazy girl! I’ve done my homework!” Carl gave her book to her mother so that she
can believe her.
“Carl! Listen to your mother! We know that you
always spend too much time doing nothing! And this is the final semester, isn’t
it? Have you been prepared to face the final exam next week? Don’t go out to
spend such useless activity and don’t watch TV over an hour!” Carl’s father
showed his anger. But he just wanted the best for his daughter. Then he tried
to lower his voice, “Darling, please you go studying now, ok?” Carl just
nodded. She went to her room and began
to write such a writing.
“Dear
Mum.. Dad... I just feel like loosing
part of the puzzle in my life that makes me confused and what must I do now?
Those puzzles are my stars and the moonlight that shines through my yellow
room. But then the heavy rains come. Loosing all the memories is too easy in
that autumn. I can’t catch the leave...
But now I know... you’re the best mom and dad!" Then she slipped it in
her diary. The rain got heavier. She turned her mobile phone on to listen ‘Kiss
The Rain’.
*Some days later...*
“Yep! This is Sunday! Oh no, I’m forget that I can’t
go out,” said Carl while holding her mobile phone. Day by day she became so
bored to stay at home. However, her parents didn’t allow her to go out. So she
texted her friend Kate, to accompany her in the room.
“Cheer up! You’ve had a face like a wet weekend
since yesterday. What’s wrong with you, Carl?” Then she told Kate what was
happened in this recent days.
“I’m so fed up with being stuck in the house all day. Have you got any idea to change my parent’s mind, Kate?”’ said Carl, frowning her face.
“Hmm... one problem a million solution, isn’t? I suggest you to hear their advice and ask them politely that you wanna go out.” Then, Kate showed her big hug to her bestie. She knew that Carl needed a shoulder to cry on. That’s what are friends for. Carl got up and asked her parents politely to hang out with Kate. “Yes, dear... you may go out but you must be home before at noon, okay?” Hearing it, Carl said, “Alright, mum! Thanks a bunch.”
“I’m so fed up with being stuck in the house all day. Have you got any idea to change my parent’s mind, Kate?”’ said Carl, frowning her face.
“Hmm... one problem a million solution, isn’t? I suggest you to hear their advice and ask them politely that you wanna go out.” Then, Kate showed her big hug to her bestie. She knew that Carl needed a shoulder to cry on. That’s what are friends for. Carl got up and asked her parents politely to hang out with Kate. “Yes, dear... you may go out but you must be home before at noon, okay?” Hearing it, Carl said, “Alright, mum! Thanks a bunch.”
Carl is very happy now. She promised to herself not
to do such useless things again and began to change into the new world. Carl
feels like her spirit comes back. Then she thanked to her bestie to always
support her and to always be there in joy and sorrow. “What a fresh day this
morning!” Since then, she is used to do more productive in her whole
examination week.
The graduation school party comes. Carl is very
happy when she was declared as one of the top students in that junior high
school. Then, she and her friend Kate took some pictures with teachers and
friends. They gave a bouquet of flowers to their teacher. They just couldn’t
forget how hard her teachers taught her. Then Kate said, “Today is our school
graduation party, right? What’s your view on it?” Carl nodded. She said,
“Honestly, Kate... I’m jubilant to be declared as the graduate of this school,
but besides it, I’m so sad too because we have to leave this colourful school
which contains thousand years of memory inside, especially when we used to
spend many activity with teacher, friends, and nothing was more beautiful than
this. And you know? I have to leave to another city to continue my study next
week. Hiks...” Kate didn’t want her bestie torn into tears. She tried to
entertain her, and said, “Yeah, me too. I feel the same too. I know how hard it will be, but listen, you
never walk alone. Trust me that parting is not the end." So saying, Carl showed her smile
and said that Kate understands her well.
But, when she heard ‘Kiss The Rain’ on piano that
came from that cool boy, she was tearing with joy. “I’m terrified of this. I
know it would be changed soon. I’m just a... I’M JUST A... leave that was
falling and blown by the strong wind. All it was stay in memory with... that
cool-brilliant boy. The very silly and
awkward moments have been proved that I was... I was... No, I won’t say it.
It’s impossible. I dream immense to get it. I wanna forget it. So, I’m still
here in the RAIN?”
Suddenly, Scott stopped his perform and came to
Carl. “Hi, Carl! Let’s play together! I know you can play it too, right?” said
him, the cool boy. “Me? What? (oh no... am I dreaming?)” said Carl. “Yeah, come
on! I will take my violin. You should play that black and white thing. Are you
ready?” added Scott while taking his violin. Slowly but surely, Carl said,
“Definitely.”
And .... so it goes. The last encounter gonna be the most precious day she has ever had. She didn’t care what tomorrow will happen. She made sure that today is alright. She is not dreadful of tomorrow. Carl doesn’t know what she feels like. Happy? quiet wrong. Sad? not even. But, she is just having a beautiful butterfly in her stomach!
And .... so it goes. The last encounter gonna be the most precious day she has ever had. She didn’t care what tomorrow will happen. She made sure that today is alright. She is not dreadful of tomorrow. Carl doesn’t know what she feels like. Happy? quiet wrong. Sad? not even. But, she is just having a beautiful butterfly in her stomach!
THE
ENDBy : Alsy Taqiya Herasafitri
Kiss The Rain
Tag :
Cerpen (Short Stories)
Read Post : Kiss The Rain
Author : Alsy Taqiya
Comments : 0
Tag :
Cerpen (Short Stories)
Read Post : Kiss The Rain
"Ketika
hujan mulai reda, lihatlah ke atas! Pelangi itu bagaikan warna-warna indah yang
menyejukkan. Bunga-bunga sakura
bermekaran dan berdansa-dansa di antara kupu-kupu mungil. Sungai
mengalir tenang di bawah jembatan gantung yang biasa kita lewati sejak kecil.
Melompat, menyelam, tertawa, dan bermain air. Hapuslah derai-derai air matamu.
Dunia ini penuh dengan warna. Sedih bukan berarti hitam putih. Lihatlah lagi,
bukankah itu sudah cukup membuatmu tersenyum, Misa?"
Kata-kata itu
masih terkesan manis di benakku, meskipun sudah tujuh tahun yang lalu. Kala itu
aku sedang dikurung dalam kesedihanku yang mendalam. Seperti gulungan ombak
yang menyayat hati yang kian pongah. Namun ia telah mengubah warna hidupku.
Seperti bintang gemintang bercahaya di antara warna hitam angkasa. Seperti warna-warna
indah pelangi, tak akan ada yang menandingi di antara warna putih awan.
Walaupun ia sekarang sudah jauh dariku, tetapi ucapannya dapat mengobarkan
semangatku yang telah lama pudar. Mengingat itu, aku jadi tersenyum. Ku ambil
pula HP dan earphone-ku dan
mendengarkan lagu Sky Gate, lagu yang
biasa ku nyanyikan dengannya dulu.
*Sepulang sekolah...*
"Hai,
Misa! Lagi apa sendirian di sini?" kata Aira yang memecah ingatanku pada
tujuh tahun yang lalu.
"Ah, tak ada kok hehe. Ayo pulang bareng!" sambungku tersenyum.
"Ya, ayo! Ku dengar, kau masuk lima besar dalam ajang piano konser minggu kemarin, ya? Selamat ya! ^_^" Aira membalikkan kembali pertanyaan.
"Mm.. hehe... Makasih, ya! Walaupun begitu, aku harus berlatih lebih giat untuk babak semi final besok karena sainganku berat. Mereka punya skill dan feeling yang kuat." sahutku. "Ganbatte, Misa-chan! Aku yakin, kau pasti bisa!^-^)/ Aku akan datang ke konsermu besok Minggu. Sampai jumpa!" kata Aira dengan lambaian tangannya yang telah sampai pada gang rumahnya.
| "Yap! Sampai jumpa besok!"
"Ah, tak ada kok hehe. Ayo pulang bareng!" sambungku tersenyum.
"Ya, ayo! Ku dengar, kau masuk lima besar dalam ajang piano konser minggu kemarin, ya? Selamat ya! ^_^" Aira membalikkan kembali pertanyaan.
"Mm.. hehe... Makasih, ya! Walaupun begitu, aku harus berlatih lebih giat untuk babak semi final besok karena sainganku berat. Mereka punya skill dan feeling yang kuat." sahutku. "Ganbatte, Misa-chan! Aku yakin, kau pasti bisa!^-^)/ Aku akan datang ke konsermu besok Minggu. Sampai jumpa!" kata Aira dengan lambaian tangannya yang telah sampai pada gang rumahnya.
| "Yap! Sampai jumpa besok!"
Aku pun segera pulang ke rumah. Di tengah kayuan sepedaku, aku
bertemu dengan mereka yang membuat hidupku berantakan. Ku segera kayuh sepedaku
secepat mungkin namun mereka tetap bisa mengejarku.
“Stop!
Hey kau, gigi kelinci! Mau kemana kamu? Hahahahaha,” kata Roy, si pemimpin geng
anak nakal itu.
“Eeeee...
gajah bengkak! Dimana temanmu yang selalu membelamu? Hahahaha... nggak ada
lagi, kan?,” sambung Noy, anggota geng itu.
“Apa?
Kamu mau ikut konser piano lagi? Gak
salah dengar nih kita? Lalu siapa penyemangatmu, Misa jelek?,” sambung Boy,
anak orang kaya di sana.
Beribu-ribu
cemohan mereka lontarkan padaku. Aku hanya bisa menunduk dan berdo’a. Aku pun
geram.
“Cukup!
Kalian bisanya cuma lawan sama perempuan saja, ya? Kalian nggak tahu apa yang sedang aku rasakan sekarang ini? Sakit, tahu!,”
seruku pada mereka.
“Aduh....
Gajah bengkak ngamuk! Ayo cabut teman-teman. Mending kita cari pemandangan yang
lain saja,” kata Boy.
“Hah!
Asalkan kamu tahu, kamu nggak bakal lolos
konser piano! No way in hell, you know?,”
bentak Noy sambil mendorong sepedaku hingga ia terjatuh. Mereka pun pergi. Aku
terdiam. Aku telah merasakan berkas sayatan-sayatan yang justru membangkitkan
semangatku bahwa aku pasti bisa di ajang konser piano yang akan mendatang. Aku
pun jalani dengan penuh kesabaran dan semangat api yang berkobar di dada.
Segera ku bangkit dan mengayuhkan sepedaku menuju rumah.
Ku temui adik perempuan dan ibuku
yang sedang menyiapkan makan siang. Kami pun makan bersama. Lalu, mulailah aku,
duduk di depan piano dan merenggangkan jari-jari untuk berlatih. Yak, ♪ Chopin - Symphonie No. 40 in G ♪, aku datang! Nada-nada piano satu persatu ku bunyikan.
Saat ku tekan tuts, ku teringat tujuh tahun yang lalu ketika tangan kanan dan
kiriku sedikit tergeser karena terpeleset jatuh dari tangga rumah pamanku.
Dulu, aku sempat putus asa bermain piano. Tetapi, kata-kata Akio Yuji telah
membuatku bangkit.
“Yuji, ku rindu sosokmu. Aku rindu
sahabat sepertimu. Ku sengaja pilih lagu simfoni ini, karena kau suka lagu itu
kan? Sayangnya dulu aku belum bisa memainkan lagu ini dihadapanmu. Ah, andai
saja kau belum pindah ke luar negeri. Andaikata kau masih di sini, aku
pasti akan menunjukkan padamu simfoni ini, yang penah kau tampilkan di konser
piano cilik jenius perfeksionis sepertimu. Lihatlah aku! Lihatlah jari-jariku
yang menyanyikan simfonimu! Aku telah mempelajarinya empat tahun yang lalu,
segera setelah kedua tanganku dinyatakan sembuh total. Aku tak ingin kalah
denganmu!”
***
*Di
rumah Yuji…*
Yuji terbaring di tempat tidurnya, melihat bintang-bintang ke arah luar jendela, dan memikirkan sesuatu untuk rencananya besok.
“Misa, ku dengar dari temanmu, kau besok akan tampil di konser piano, kan? Kita sudah lama tak berjumpa lagi, ya? Sama seperti dulu, ternyata kita masih sama-sama menyukai bermain piano. Apa di sana masih siang? Kau pasti sedang berlatih untuk besok. Di sini, aku telah melihat bintang yang sangat cantik, secantik kamu dulu. Walaupun kau masih melihat awan, ku yakin kita berada di bawah langit yang sama. Haha, jadi teringat masa kecil! Kala itu, setiap malam kita selalu mencoba ‘tuk menghitung berapa banyak bintang di langit. Tak ada satu pun dari kita yang sanggup, namun kita tetap menghitungnya. Konyol. Benar-benar konyol. Semangatlah terus. Aku sudah menyiapkan segalanya untuk menemuimu di konser piano besok!”
Yuji pun tidur lebih awal. Ia tak ingin terlambat menaiki pesawat yang akan menghantarkannya di pagi hari ke Jepang, negara asalnya.
Yuji terbaring di tempat tidurnya, melihat bintang-bintang ke arah luar jendela, dan memikirkan sesuatu untuk rencananya besok.
“Misa, ku dengar dari temanmu, kau besok akan tampil di konser piano, kan? Kita sudah lama tak berjumpa lagi, ya? Sama seperti dulu, ternyata kita masih sama-sama menyukai bermain piano. Apa di sana masih siang? Kau pasti sedang berlatih untuk besok. Di sini, aku telah melihat bintang yang sangat cantik, secantik kamu dulu. Walaupun kau masih melihat awan, ku yakin kita berada di bawah langit yang sama. Haha, jadi teringat masa kecil! Kala itu, setiap malam kita selalu mencoba ‘tuk menghitung berapa banyak bintang di langit. Tak ada satu pun dari kita yang sanggup, namun kita tetap menghitungnya. Konyol. Benar-benar konyol. Semangatlah terus. Aku sudah menyiapkan segalanya untuk menemuimu di konser piano besok!”
Yuji pun tidur lebih awal. Ia tak ingin terlambat menaiki pesawat yang akan menghantarkannya di pagi hari ke Jepang, negara asalnya.
***
“Kriiiiiing… Ohayou, Misa-chan! Kriiing….
Ohayou, Misa-chan!”
Misa terbangun dengan suara
alarmnya yang telah ia atur kemarin malam. Adiknya yang bernama Harumi, si
kecil pemain cheerleaders menyemangatinya
dengan tarian dan sorakan semangat di pagi buta itu.
“Kak Mi-Sa! Harus Se-ma-ngat! Yuhuuuuu…..” sorak adiknya pada Misa dengan memenggal kata dan gerakan ala cheerleaders-nya yang lucu. Misa tertawa kecil melihat adiknya yang begitu lucu dan imut. Ia selalu membuat dirinya lebih baik. Dengan senang Misa berkata, “Kakak janji akan melakukan yang terbaik. ^_^”
Sebelum berlatih lagi, Misa membuka gorden jendelanya. Dilihatnya awan bergumpal lembut. Sinar matahari menyeruak ke bumi. Dunia tidak lagi monokromatik setelah hitam langit dan putih bintang di malam hari, namun menampakkan warna-warni indah alamiahnya. Ia berangan pada tempat konser nanti. Misa merasa, bahwa hari ini adalah hari yang indah. Segeralah ia berlatih pianonya, Steinway & Sons dengan lagu simfoninya. Sekian cukup lama berlatih, ia segera mempersiapkan diri.
“Kak Mi-Sa! Harus Se-ma-ngat! Yuhuuuuu…..” sorak adiknya pada Misa dengan memenggal kata dan gerakan ala cheerleaders-nya yang lucu. Misa tertawa kecil melihat adiknya yang begitu lucu dan imut. Ia selalu membuat dirinya lebih baik. Dengan senang Misa berkata, “Kakak janji akan melakukan yang terbaik. ^_^”
Sebelum berlatih lagi, Misa membuka gorden jendelanya. Dilihatnya awan bergumpal lembut. Sinar matahari menyeruak ke bumi. Dunia tidak lagi monokromatik setelah hitam langit dan putih bintang di malam hari, namun menampakkan warna-warni indah alamiahnya. Ia berangan pada tempat konser nanti. Misa merasa, bahwa hari ini adalah hari yang indah. Segeralah ia berlatih pianonya, Steinway & Sons dengan lagu simfoninya. Sekian cukup lama berlatih, ia segera mempersiapkan diri.
***
“Aku akan segera
menyusulmu, Misa.” Pesawat sedang membawa Yuji terbang jauh menuju negara
Sakura.
***
…Piano
Concerto, Tokyo, the 8th of October, 2001…
“Mari kita
saksikan penampilan ke-tiga dari Akira Kosemora! Beri tepukan yang meriah!”
Pembawa acara menyampaikan daftar acaranya setelah penampilan peserta ke-dua
telah usai. Ah, sebentar lagi giliranku, di mana mimpi akan menjawabku. Aku
berada di ruangan belakang panggung. Ku dengar nada yang sangat indah dari
Akira. Seperti untaian nada yang menggema hingga menghembus ke telinga. Aku pun
menyimak MC.
“Kita sambut penampilan berikutnya
dari peserta ke-empat, Misaki Aori! Beri tepuk tangan!” Pembawa acara memanggil
namaku untuk menuju ke panggung. Sekarang giliranku. Perlahan ku berjalan di
panggung yang luas, membungkuk pada penonton, lalu duduk di tempat duduk depan
piano. Ketika ku lihat ke arah penonton, ku terkejut sekali melihat seseorang
yang dulu selalu menemaniku, membuatku tertawa, dan membuatku bangkit yang
duduk di barisan ke-3. Apa aku salah lihat? Tidak, tak salah lagi. Itu pasti
dia. Ku kenal wajah itu. Haha, hampir mirip seperti dulu. Sungguh tak masuk akal.
Aneh tapi nyata. Kyaaaa><’ Ingin rasanya mulut berteriak menyatakan
betapa senangnya aku sekarang. Ia
tersenyum. Yosh! Kalau itu
benar-benar kamu, maka dengarkanlah kata-kata hati ini yang menari bersama
simfoniku!
Ku bermain dengan rasa tahun-tahun
lalu yang kita lalui bersama di musim semi. Polos. Lucu. Penuh tawa. Itulah
yang ku ingat hingga sekarang. Hiduplah kembali aku yang dulu. Soba ni iru kara! Karena kau berada di sini. Inilah deretan kalimatku. Hibiku! Bergetar! Menggema! Semoga ini
sampai padamu.
***
"Itu lagu kesukaanku, Misa.
Terima kasih! Ku rasakan kalimat ini. Kau bagaikan bunga musim semi. Semua
orang terpukau melihat kehadiran bunga sepertimu. Bunga yang berbeda dengan
lainnya. Ruangan ini telah dipenuhi warna-warna pelangi darimu. Sanubarimu
menebarkan aroma padaku bahwa aku berada dalam alunan nada jiwa yang tak
terbiaskan segenap rasa. Teruskan, Misa!"
***
Yosh! Aku sudah menyampaikannya.
Sedikit lelah, namun menyenangkan. Semoga yang tadi sampai padanya. Semua orang
memberiku tepuk tangan. Mereka bersorak. Setidaknya, aku jadi lebih mengerti feeling dalam bermain piano karena kau
di depan mataku. Aku pun membungkuk, dan kembali ke belakang panggung. Tak lama
kemudian, ku dengar suara yang memanggilku di belakangku.
"Misa-chan!" sapa Yuji
yang tengah memecah lamunku.
"Yu... Yuji-kun! Ternyata yang tadi itu beneran kamu. Apa kabar? Lama nggak ketemu, ya... ^_^" kata Misa yang tengah sedikit doki-doki (deg degan) dan gagap.
"Sangat baik. Kau tadi sangat hebat bermain lagu itu. Kau masih ingat ya, kalau lagu itu pernah ku tampilkan. Itu bagus bahkan melebihi dariku. Ku datang kemari 'tuk lihat dirimu di atas panggung. Ku tahu berita ini dari temanku." Yuji merasa senang. Tawa kecilnya persis sama seperti yang dulu, yang setengah melihatkan gigi dan gusi.
"Hontou ni? Benarkah? Eh.. Enggak kok. Biasa saja... Tapi makasih ya! Ini juga berkat kamu yang tiba-tiba muncul sehingga menambah feelingku yang lebih oke, mengingat lagu ini pernah kau tampilkan dulu." kata Misa terus terang. Misa berbicara agak kaku. Ia sendiri sebenarnya bingung mau bicara topik apa dulu karena sebenarnya banyak topik yang melintas di pikirannya.
"Haha! Kok bicaranya garing, kaya orang belum kenal gitu sih? Ayo kita lihat satu konser lagi di sana." kata Yuji yang menunjuk ke arah kursi barisan ke tiga. Mereka menyimak lagu dari peserta terakhir, ♪ Mozart - Moments Musicaux Op. 94 No. 3 ♪. Karena ini hari pertama mereka bertemu kembali, keheningan menyelimuti mereka. Meskipun mulut belum sanggup berucap, tetapi mereka saling menyimpan kata-kata yang terkunci di dalam hati. Sunyinya itu kian pudar ketika orang-orang bertepuk tangan. Konser sudah selesai. Tinggal pengumuman yang dinantikan.
"Yu... Yuji-kun! Ternyata yang tadi itu beneran kamu. Apa kabar? Lama nggak ketemu, ya... ^_^" kata Misa yang tengah sedikit doki-doki (deg degan) dan gagap.
"Sangat baik. Kau tadi sangat hebat bermain lagu itu. Kau masih ingat ya, kalau lagu itu pernah ku tampilkan. Itu bagus bahkan melebihi dariku. Ku datang kemari 'tuk lihat dirimu di atas panggung. Ku tahu berita ini dari temanku." Yuji merasa senang. Tawa kecilnya persis sama seperti yang dulu, yang setengah melihatkan gigi dan gusi.
"Hontou ni? Benarkah? Eh.. Enggak kok. Biasa saja... Tapi makasih ya! Ini juga berkat kamu yang tiba-tiba muncul sehingga menambah feelingku yang lebih oke, mengingat lagu ini pernah kau tampilkan dulu." kata Misa terus terang. Misa berbicara agak kaku. Ia sendiri sebenarnya bingung mau bicara topik apa dulu karena sebenarnya banyak topik yang melintas di pikirannya.
"Haha! Kok bicaranya garing, kaya orang belum kenal gitu sih? Ayo kita lihat satu konser lagi di sana." kata Yuji yang menunjuk ke arah kursi barisan ke tiga. Mereka menyimak lagu dari peserta terakhir, ♪ Mozart - Moments Musicaux Op. 94 No. 3 ♪. Karena ini hari pertama mereka bertemu kembali, keheningan menyelimuti mereka. Meskipun mulut belum sanggup berucap, tetapi mereka saling menyimpan kata-kata yang terkunci di dalam hati. Sunyinya itu kian pudar ketika orang-orang bertepuk tangan. Konser sudah selesai. Tinggal pengumuman yang dinantikan.
Menunggu hasil keputusan juri, mereka yang telah diisi
kata-kata bahan pembicaraan tadi, asyik memperbincangkan banyak hal semenjak
mereka berpisah. Mulai dari musik, makanan, sekolah, hewan peliharaan, guru killer, game, sampai hal-hal baru di
kota Tokyo dan Berlin.
"Jadi sekarang kamu aktif berorganisasi, ya?"
Misa tersenyum sambil mengunyah sandwhich
yang baru dibelinya. Yuji mengangguk sambil menyeruput teh kotak. Ia pun
berkata, "Saat acara ATAMBE dulu, entah mengapa aku melihat sosok gadis
yang mirip semganmu yang sedang bermain lagunya Yiruma, "Kiss The Rain."
Tetapi, setelah aku lihat lagi, tak ada orang yang memainkan piano. haha..
rupanya itu hanyalah imajinasiku. Dan saat itulah ku berlatih lagu itu di rumah
karena ku yakin kau suka lagu itu, ya kan?" Yuji bercerita pada Misa. Misa
heran, hal itu juga pernah dialaminya. Ia juga pernah melihat Yuji memainkan
lagu Kiss The Rain saat acara
perpisahan SMP. Namun, ia tak cerita balik pada Yuji. Ia hanya bertingkah
seperti orang dilanda dengan keheranan dan hanya berkata, "Ya.
Benar." Misa menganggukkan kepalanya.
Setelah itu, tibalah saatnya untuk melihat hasil
keputusan juri yang terteta dalam selembar kertas di luar ruangan. Misa melihat
urutan kelima semifinalis dari bawah dengan pelan-pelan. Satu per satu belum
terbacanya namanya. Dan, yak!! Akhirnya ia berada di urutan ke-dua. Ini
artinya, ia akan masuk ke babak final yang hanya dipilih tiga besar.
"Yap! Wihi.. dapet peringkat dua ni yee?!" kata
Aira yang tiba-tiba berada di samping Misa bersama Harumi di sampingnya.
"Ah, buat kaget aja! Makasih atas dukunganmu ya, Aira! ^-^"
"Kak Misa... Haru sangat terkesan lo! Nanti Haru ditraktir es krim moe-moe ya!" Misa pun mengangguk dan mengelus rambut adiknya. Lalu, Misa, Haru, Yuji, fan Aira pulang bersama jalan kaki. Mereka saling berbagi cerita di sepanjang jalan. Di tengah jalan, Misa bertemu dengan geng anak nakal. Mereka pun minta maaf padanya.
"Ah, buat kaget aja! Makasih atas dukunganmu ya, Aira! ^-^"
"Kak Misa... Haru sangat terkesan lo! Nanti Haru ditraktir es krim moe-moe ya!" Misa pun mengangguk dan mengelus rambut adiknya. Lalu, Misa, Haru, Yuji, fan Aira pulang bersama jalan kaki. Mereka saling berbagi cerita di sepanjang jalan. Di tengah jalan, Misa bertemu dengan geng anak nakal. Mereka pun minta maaf padanya.
“Maafkan kami ya, Misa. Kau bermain
piano dengan baik. Kau pantas menjadi juara. Sekali lagi, maafkan kami,” kata
Roy, pemimpin geng tersebut.
“Tak apa, kok. Aku senang kalian
sudah sadar,” kata Misa dengan menunjukkan senyuman kecilnya.
***
Malam menjelang. Hujan datang membasahi kota Tokyo
sekarang. Aku sangat menyukai hujan. Butiran-butiran air itu telah
mengingatkanku pada kisah dari sebuah alunan lagu. Lagu tanpa lirik dari piano
Steinway & Sons yang pertama kali ku dengar, tepat 8 tahun yang lalu. Lagu
yang membawaku kenal pada sosok laki-laki kecil sebaya, berkacamata, polos,
penuh pesona, menarik, dan sederhana. Tiba-tiba aku mendengar lagu itu. Tepat
sekali. Yuji datang, memainkan Kiss The
Rain dengan pianoku. Segera ku ambil biolaku untuk mengiringinya. Sempurna!
Semua terdengar sempurna! Ku dengar ia memainkan River Flows In You juga. Hei! Dari mana dia tahu itu lagu
favoritku? Ajaib. Aku pun tetap menggesek biolaku. Tanpa terasa, bongkar pasang
yang telah lama hilang, telah terisi dengan berbagai warna lagi sekarang. Ku
teringat 7 tahun lalu. Meski ku terpuruk gagal di pagi yang suram, mendengar
suaramu, membuat semua sirna. Rasa gelisahku telah berubah menjadi sebuah harapan.
Rasanya seperti aku bisa melakukan apa saja. Ya, memang kita bisa
mewujudkannya, kan? Ku harap ini akan abadi.
***
…Piano Concerto…
Babak final akan segera dimulai. Aku maju pada urutan
pertama. Meskipun belum terbiasa, namun pada barisan pertama ada orang yang
sedang mendukungku. Di sana ada ayah, ibu, adik, Aira, dan pastinya Yuji. Kyaa…
baiklah, lagu ini ku persembahkan untuk kalian!
♬ Frédéric Chopin - Étude Revolutionary Op. 10, No.12 ♬
Bergetar! Menggema!
♬ Frédéric Chopin - Étude Revolutionary Op. 10, No.12 ♬
Bergetar! Menggema!
"Awalan yang bagus!" Yuji melihat fokus ke arah
panggung. Saat Misa memainkannya, terdengar campuran nada yang menghentak dan mellow. Terdengar aneh, namun
performanya berselera tinggi. Saat bermain, ia mengingat peristiwa lalu saat
teman-temannya mengejeknya kasar dikala ia bermain sebuah lagu dengan biola
yang terdengar seperti kayu yang sedang digergaji. Begitu pula saat ia bermain
piano dulu. Permainannya dianggap merusak telinga mereka. Justru ocehan mereka
membuatnya semakin kuat. Semangat Misa semakin berkobar bak lagu Flight of The Bumblebee♬.
Lagu Misa diakhiri dengan keheningan yang mengisi seluruh
ruangan itu. Tak ada satupun yang berbicara. Terpukau. Perlahan, terdengar
suara tepukan meriah dari penonton. Setelah itu, Misa mendapatkan seikat
karangan bunga dari anak kecil yang berpitakan piano.
"Kak Misa, ini untukmu. Disimpan ya, kak!" kata
anak itu sambil tersipu malu dan senyuman kecil di bibirnya. Rupanya, ia
menyukai performa Misa.
Kesunyian itu telah berganti menjadi sebuah ketegangan
saat pemain berikutnya, Akira Kosemura mamemainkan lagu ♪ Frédéric Chopin -
Fantaisie Impromptu ♪. Alunan nada terdengar serasi. Cocok dengan suasana
sekarang. Terdengar taste yang
berbeda. Memang. Semua peserta memiliki taste,
skill, dan feeling yang berbeda.
Mereka memiliki kelebihan masing-masing yang tak dimiliki oleh peserta lain.
Penilaian juri semakin rumit. Tetapi akhirnya, Misa berhasil merebutkan posisi
pertama, disusul oleh Akira dan Sawano, pemain lagu dari ♬Chopin, Nocture in E major Op. 9 No. 2.♬ Misa sangat senang, tetapi ia merasa agak cemas saat teringat
Yuji akan segera pulang kembali ke ibukota negara Jerman, tempat di mana ia
harus melanjutkan sekolahnya dikarenakan orang tua Yuji pindah kerja di sana.
Misa semakin muram, namun ia tetap tersenyum karena setidaknya ia sudah merasa
senang akan kedatangan sahabat lamanya.
***
Aku menarik napas dalam. Guguran daun maple dapat ku lihat di dekat jendela.
Campuran warna kuning, merah, kecoklatan, oranye bersatu memanglah indah.
Mereka menghasilkan komposisi pemandangan alami yang luar biasa indah. Ku
sentuhkan jari-jari ke permukaan kaca. Kembali teringat kenangan saat aku masih
kecil di musim gugur. Bibirku tanpa tersadar tersenyum. Walaupun indah di mata,
ada kepedihan di hatiku di hari ini. Namun, ku harap itu semua segera berakhir dan
dongeng telah selesai.
"Aku tak boleh cengeng! Aku
harus pasang muka riang padanya! Ayolah Misa! Tersenyumlah!" Misa mencoba
untuk menghibur diri sendiri. Ia pun langsung mengambil sepedanya dan pamit ke
kedua orang tuanya. Ia pergi ke bandara. Di sana, ia akan bertemu terakhir kalinya
dengan Yuji. Ia memasang wajah ceria walau hanya berpura-pura. Sebelum masuk ke
pesawat, Yuji memberikan sebuah boneka teddy
bear berwarna babypink yang
sangat lucu pada Misa. Misa tersenyum. Rupanya, Yuji masih teringat barang
koleksi Misa saat kecil. Dengan berat hati, Yuji mengatakan hal yang ingin
dikatakannya sebelum berangkat.
"Misa, maaf ya, kali ini aku harus pergi. Tetaplah jadi dirimu yang selalu ceria dan tak pernah menyerah dengan segala kekurangan yang kau miliki. Eh, seorang pianis itu nggak cengeng loo... Mereka tetap mewarnai hidupnya walau hanya monokromatik yang mewarnainya. Lihat, teddy bear-mu selalu tersenyum!" Yuji mencoba 'tuk menghibur Misa.
"Buat apa aku menangis? Haha, kau ini!! Lihat, aku tak mengeluarkan air mata sedikit pun, kan?!" jawab Misa yang nampak tertawa lepas. Ia pun menambahkan, "Ini untukmu." Misa menyodorkan gambar doodle yang baru ia buat kemarin untuk Yuji. Dalam gambar itu, terlukislah kisah petualangan mereka berdua dari kecil hingga hari ini. Hari-hari di mana mereka tetap berjalan, walau pernah merangkak.
"Makasih telah kemari. Makasih bonekanya juga. Makasih atas semua!" kata Misa pada Yuji.
"Kau ini ceroboh, ya! Justru aku yang harus berterimakasih padamu. Makasih telah menghiburku dan pastinya doodle ini!" Yuji berterimakasih kembali pada Misa.
"Titipkan salamku pada ayah dan ibumu, ya! Mereka telah berjasa bagiku dulu." pinta Misa pada Yuji.
"Haik! Ja, mata! (sampai jumpa!) Ku harap kita dapat bertemu lagi!" Yuji melambaikan tangan dengan senyumannya yang khas seperti dulu. Ia pun segera melangkah pada tangga pesawat.
"Misa, maaf ya, kali ini aku harus pergi. Tetaplah jadi dirimu yang selalu ceria dan tak pernah menyerah dengan segala kekurangan yang kau miliki. Eh, seorang pianis itu nggak cengeng loo... Mereka tetap mewarnai hidupnya walau hanya monokromatik yang mewarnainya. Lihat, teddy bear-mu selalu tersenyum!" Yuji mencoba 'tuk menghibur Misa.
"Buat apa aku menangis? Haha, kau ini!! Lihat, aku tak mengeluarkan air mata sedikit pun, kan?!" jawab Misa yang nampak tertawa lepas. Ia pun menambahkan, "Ini untukmu." Misa menyodorkan gambar doodle yang baru ia buat kemarin untuk Yuji. Dalam gambar itu, terlukislah kisah petualangan mereka berdua dari kecil hingga hari ini. Hari-hari di mana mereka tetap berjalan, walau pernah merangkak.
"Makasih telah kemari. Makasih bonekanya juga. Makasih atas semua!" kata Misa pada Yuji.
"Kau ini ceroboh, ya! Justru aku yang harus berterimakasih padamu. Makasih telah menghiburku dan pastinya doodle ini!" Yuji berterimakasih kembali pada Misa.
"Titipkan salamku pada ayah dan ibumu, ya! Mereka telah berjasa bagiku dulu." pinta Misa pada Yuji.
"Haik! Ja, mata! (sampai jumpa!) Ku harap kita dapat bertemu lagi!" Yuji melambaikan tangan dengan senyumannya yang khas seperti dulu. Ia pun segera melangkah pada tangga pesawat.
Senyuman menghiasi mereka berdua. Lambaian tangan mereka
semakin terlihat kecil saat pesawat mulai terbang. Dari kejauhan, Misa mengejar
pesawat itu dengan sepedanya. Namun sekarang telah terbang menjauh. Di dalam
benak hati, ia merasa senang. Yap! Dia tak merasa sedih lagi. Kehadiran Yuji
telah membuatnya berpikir lebih maju. Sekarang, tinggalah kenangan terindah
dalam hidup Misa dan sebuah boneka lucu yang telah ia letakkan di atas
pianonya.
Burung-burung pun bernyanyi.
"Setidaknya, ia membuatku merasa senang..." ujar Misa dengan senyuman bak musim semi, yang sedang memainkan lagu Yiruma, ♬ If I Could See You Again.
"Setidaknya, ia membuatku merasa senang..." ujar Misa dengan senyuman bak musim semi, yang sedang memainkan lagu Yiruma, ♬ If I Could See You Again.
Catatan : Jangan lupakan
sahabatmu yang telah hadir dalam hidupmu sebagai bintang yang paling terang.
Jangan abaikan pula mereka yang telah susah-payah kau cari walaupun kau telah
menemukan sahabat baru.
TAMAT
Originally By :
Alsy Taqiya Herasafitri
Cerita Coklat di Negeri Sakura
Tag :
Cerpen (Short Stories)
Read Post : Cerita Coklat di Negeri Sakura
Author : Alsy Taqiya
Comments : 1
Tag :
Cerpen (Short Stories)
Read Post : Cerita Coklat di Negeri Sakura
-Diunduh dari : www.mjms.net -
Story By : Alsy Taqiya H.
Happy Reading ! :)
"Teng! Teng!" sekolah hari ini telah berakhir. Semua murid kelas 8 keluar kelas. Di tengah keramaian orang, terdengarlah suara Roy dari kerumunan orang-orang. "Ke rumahku, yuk! Saudaraku datang ke rumah, dan kami akan merayakan pencalonanku sebagai kapten bola basket."
"Aku harus ke rumah dulu," jawab Faiz. "Ayah selalu menginginkanku untuk makan malam bersama, tapi aku akan ke rumahmu nanti."
"Oke!"
Faiz dengan cepatnya naik ke dalam bus, duduk di bagian paling belakang, dan memulai untuk mengerjakan PR matematikanya. Sesampainya di rumah, rupanya tak ada orang di sana melainkan adik perempuannya yang sedang bermain boneka. Jadi ia hanya duduk di atas sofa dan membaca majalah. Dia masih terpikat dengan artikel tentang hacker yang menjadi topik utama majalah saat ayahnya pulang kerja sore itu. "Hai, nak!" kata ayahnya sambil meletakkan bahan makanan di atas meja dapur.
Faiz segera ke dapur untuk menyiapkan makan malam. "Ayah, boleh nggak aku nanti malam ke rumah Roy?" tanyanya, sambil mengatur waktu microwave.
"Tentu," balas ayahnya. "Ayah mau mengantarkan adikmu ke bioskop nanti. Ayah akan menurunkanmu di jalan dan menjemputmu pulang ke rumah."
"Terima kasih, ayah!"
Setelah makan malam, Faiz memakai baju yang bersih dan menemukan Trivia game barunya di atas lemari. Roy suka mainan ini, jadi Faiz mau membawanya agar membuat suasana nanti menyenangkan.
Ketika Faiz tiba di rumah Roy, ia menemukan temannya bersama saudaranya yang asyik duduk di sekitar halaman belakang rumah. "Mau main trivia?" tanya Faiz.
"Nggak," jawab Roy celetus. "Rizal dan Dimas nggak suka main permainan papan. Kemarilah, duduk dan lihat lembaran jawaban tes Matematika minggu depan yang ku punya. Kemarin Pak Budi tidak sengaja meninggalkan lembaran itu di atas printer di lab komputer, dan aku sangat beruntung menemukannya sebelum orang lain duluan."
Faiz terkejut. "Apa yang kau pikirkan, Roy? Jangan curang!"
"Ku lakukan sekarang!" kata Roy dengan suara keras. Ia menoleh ke saudaranya untuk melihat apakah mereka cukup terkesan. "Itu akan menjadi sangat mudah. Ayolah... gak masalah besar, kok !"
Tetapi Faiz tidak punya maksud untuk curang. "Kau pasti bergurau!" katanya. "Setelah semua yang telah kita pelajari tentang akibat curang, menyebut fakta bahwa itu tak pantas, mengapa di bumi ini kau mau melakukannya? Doushite?!"
Faiz merasa sangat tidak nyaman. Ia tidak ingin semua dilakukan dengan curang. Dia akan merasa bersalah jika ikut-ikut memegang curian jawaban. Seakan-akan, ia seperti merasa sakit yang selalu ia rasakan di perutnya ketika suara hatinya mulai berkata.
"Hey teman-teman! aku mau melakukan sesuatu ," kata Faiz dengan canggungnya sambil cepat-cepat berbalik badan dan buru-buru kembali lewat dapur Roy.
Roy melihat ke saudaranya lagi dan mengangkat bahu ketika Faiz segera menelpon ayahnya. "Ayah, aku sangatlah tak mau mengganggumu keluar malam, tetapi ayah bisa datang dan jemput aku sekarang?" bisik Faiz pada penerima telepon. "Semua tidak baik di sini." Ayah Faiz terkejut tetapi ia tidak merasa ragu untuk menolongnya.
Faiz duduk di depan serambi Roy untuk menunggu jemputan ayahnya. Ketika ia menunggu, ia berharap Roy khawatir dimana ia, datang, dan bicara dengannya, tetapi kenyataannnya tidak. Faiz merasa sangat bingung. "Bagaimana bisa cowok seperti Roy mau curang?" pikirnya. "Ia seorang pemimpin di sekolah, dan orang-orang menyeganinya. Dia butuh untuk melakukan hal yang benar."
Kelak malam itu, setelah sampai di rumah, Faiz berbaring gelisah di atas tempat tidurnya. "Tok ! Tok ! Tok !" ayah mengetuk pintu kamarnya. "Boleh ayah bicara, nak?" mintanya. Martin bangun dan ayahnya masuk dan duduk di samping tempat tidur. Suasana malam itu diam canggung seperti nampaknya sudah satu jam. Sang ayah bertanya, "Apa kau ingin menceritakan ayah tentang kejadian tadi?"
"Aku sangat marah pada Roy, Ayah," kata Faiz. "Kupikir aku benar-benar mengenalnya, tapi sekarang ia bertingkah aneh dan tiba-tiba ingin main curang pada ulangan besok. Kenapa ia melakukan yang seperti itu? Ia akan dicalonkan menjadi kapten basket, tetapi jika semua orang tahu ia curang, dia akan dikeluarkan dari tim sekaligus!" Faiz menceritakan ayahnya tentang jawaban tes matematika yang diperlihatkan oleh Roy tadi.
"Hmm... aku sangat heran," sangka ayah Faiz. "Aku selalu mengenal Roy sebagai anak yang bijaksana, tanggung jawab, dan laki-laki yang adil. Dia selalu menjadi pemimpin yang baik di lapangan maupun di kelas. Tidakkah ia ketua kelasmu tahun lalu? Apakah kamu mengira Roy dapat merasa terbebani? Terkadang orang-orang melakukan kecurangan saat mereka tidak berpengetahuan cukup atau tidak punya waktu cukup untuk belajar."
"Aku tidak peduli jika ia terbebani!," teriak Faiz naik darah. "Aku tidak berkata bahwa ia harus perfect, tetapi semua orang menyeganinya. Dia telah mencontohkan hal yang buruk."
"Kau sepenuhnya benar, anakku. No one is perfect, isn't it? Tetapi ia mungkin merasa frustasi atau keraguan diri, namun ia harus mendapatkan bimbingan matematika atau belajar lebih banyak dengamu, tidak mengambil jalan keluar yang mudah. Seorang pemimpin harus selalu mempunyai keberanian untuk mengambil jalan yang benar. Roy seharusnya mengambil beberapa pelajaran dalam kepemimpinan darimu."
"Aku? Aku tidak bisa memimpin orang! Orang-orang tidak mendengarkanku, Ayah..." jawab Faiz.
"Mungkin kau boleh berpikir orang-orang tidak mendengarmu, tetapi mereka melihatmu. Memimpin dengan contoh teladan yang baik dapat sungguh berpengaruh pada teman sebayamu. Jika Roy bisa melakukan itu, pasti kau juga, nak." Ayah Faiz menepuk bahunya, dalam gerak-gerik dorongan semangat.
Faiz mulai merenungkan kata-kata ayahnya. Kata-kata itu membuatnya banyak pengertian.
"Kau selalu mendengarkan suara hatimu seperti yang kau lakukan malam ini saat kau menolak curang dengan Roy," lanjut ayahnya sambil tersenyum dengan bagganya. "Kau punya keteguhan hati untuk melakukan apa yang benar, dan kau tidak takut untuk melakukan kebenaran meski hanya sendiri. Kau punya ketangguhan, dan sifat itu sangatlah penting bagi pemimpin yang baik."
"Bagaimana dengan Roy?" tanya Faiz sambil menunjukkan muka yang serius. "Bagaimana aku dapat membantunya untuk kembali ke jejak yang baik?"
"Kau dapat mempengaruhinya dengan menjadi temannya. Stay true to yourself, dan memasang teladan yang unggul. Ketika dia sudah siap untuk mempertimbangkan kembali aksinya, dia akan melakukan hal yang benar."
Faiz merasa mengantuk malam itu dengan hatinya yang lebih terang. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa besok pagi dia akan mencoba untuk meyakinkan Roy untuk membuang jauh-jauh jawaban yang telah dicuri dan mengajaknya untuk belajar bersama untuk tes matematika yang akan mendatang. Mungkin ia tidak dapat memimpin orang, tetapi ada kesempatan yang sangat bagus untuk memimpin temannya untuk melakukan apa yang benar. ^_^
Memimpin dengan Contoh
Tag :
Cerpen (Short Stories)
Read Post : Memimpin dengan ContohMay 9, 2015
Author : Alsy Taqiya
Comments : 0
Tag :
Cerpen (Short Stories)
Read Post : Memimpin dengan ContohMay 9, 2015

I see your true colors~
The first day I met him... slowly, I saw many beautiful colors in front of me. The monotonous day was all gone. And I can't explain it clearly up to now. But I'll tell you something... look at the open sky first! There's me. Cause I feel like a bird in the open sky... because you gave me wings, and now I can fly... ummmmm... What was this little thing called? Wakarimasen!!
"What a beautiful day today!"said my friend. Her name is Hemi. I called her "Ice Princess" too, because she is too cute. She is my bestie. We love discussing about our homework, hanging out, eating ice cream, playing scrabble, and playing music. But, we have a different thing that we couldn't regret it each other. She likes rock music so much. I hate it so much. I prefer classic than rock!! She thinks that classic makes her sleepy to listen it. But I don't think so, and rock music always makes me dizzy although it puts a love song. But, I think that's not problem. She knows one thing that everyone doesn't know. Yeah,, she knows my secret admirer!!
"Kriiiiiiiiiiiiiiing....," the bell rang. I rushed out the class then went to the infirmary room. Ugh.. I was so sad after I looked at him in terribly pain. "Dear God, what must I do now??" He fell down from the staircase. His friends told me that he was getting a terrible headache. Then, when he walked down the stair, and he fell down. Slowly, my tears fell down through my sweet cheeks. . .
*TO BE CONTINUED * XD
Rainbow Eyes
Tag :
Cerpen (Short Stories)
Read Post : Rainbow EyesFeb 20, 2015
Author : Alsy Taqiya
Comments : 0
Tag :
Cerpen (Short Stories)
Read Post : Rainbow EyesFeb 20, 2015
- dreams time.com -
Pada suatu hari, ada seekor kelinci bernama Michi. Ia sangat senang dengan boneka kesayangannya, yang ia namakan Flory. Baginya tidak ada teman sesepesial Flory. Ia menaganggapnya sahabat, meskipun hanyalah boneka. Boneka itu ia temukan di pinggiran Pantai Klayar minggu lalu bersama Pak Beruang.
"Yack ! Kau semakin cantik, Flory..." katanya sambil menyisir rambut bonekanya.
"Michii... ayo kita sarapan dulu !", kata ibu Michi.
"Iya, bu..."
Setelah berjalan ke ruang makan, Michi sangatlah senang dengan masakan ibunya.
"Ibu.... Kau memang koki yang hebat ! masakan wortel ibu sangat enak. Michi suka sekali :D"
"Hehehe.. ibu kan tahu makanan kesukaanmu." kata ibu sambil tersenyum.
"O ya, Michi, nanti ayah pulang. Di hari liburan yang panjang ini, kita akan pergi ke Pulau Kodok untuk berlibur bersama Paman Gober dan cucu-cucunya. Setelah makan, segeralah kamu siapkan barang-barangmu. "
"Horee.. pasti menyenangkan. Baik, bu!" kata Michi dengan girangnya.
Beberapa jam kemudian, Michi dengan kedua orang tuanya telah siap dan segera berangkat ke Pelabuhan Kodok. Pelabuhan itu khusus bagi hewan-hewan yang ingin pergi ke Pulau Kodok. Setelah berada di kapal, Michi memandangi lautan biru yang indah sambil memeluk erat bonekanya.
"Flory, bagaimana pendapatmu tentang lautan biru ini? Apakah mereka senang?" tanya Michi pada bonekanya. Tentu saja Flory tidak bisa menjawab, namun Michi yakin bahwa bonekanya ingin menjawab. Tak lama kemudian, ayah dan ibu Michi memanggilnya.
"Michii... ayo kesini ! Disini ada Paman Bebek Gober."
"Horee... Paman Gober !! Bagaimana keadaan Paman Gober? Apakah baik-baik saja? Dan apakah Paman kemari dengan cucu-cucu Paman?" tanya Michi dengan girangnya.
Lalu Paman Gober tersenyum dan menjawab,
"Michi, paman baik-baik saja. Ya, cucu-cucu paman sedang disini. Miko kucing... Jiji Jerapah... kemarilah ! ada Michi yang ingin bertemu dengan kalian." kata Paman Gober.
Setelah itu, Miko dan Jiji pun keluar dari dalam ruangan dan menyambut Michi.
"Michii... kita sudah lama tidak bertemu, ya !" kata mereka berdua.
"Ah, iya.. " jawab Michi.
Setelah itu, mereka berpelukan dengan terharunya.
"Teman-teman, bagaimana kalau kita bermain saja? " ajak Miko.
"Ide yang bagus ! Ayo main petak umpet ! " sambung Jiji.
"Baiklah, hom pim pah alai hom gambreng ! Yeeyy .. aku menang duluan..! " XD seru Michi.
"Ah, Michi beruntung sekali , yah! Ayo kita gunting batu kertasan!" ajak Jiji pada Miko.
"Gunting, batu, keer... tass !"
"Horee, aku menang dulu :D " kata Miko.
"Baiklah, aku yang kalah. Aku hitung ya... Satu.. dua.. tiga.. empat.."
Sambil Jiji menghitung, Michi dan Miko segera mencari tempat persembunyian. Michi bersembunyi di belakang pelampung kapal yang menggantung di tengah. Sedangkan Miko bersembunyi di dalam ruangan di balik kursi-kursi. Michi masih memegang erat boneka kesayangannya. Tiba-tiba, sekumpulan anak beruang datang mendekat Michi. Nampaknya, mereka tertarik dengan boneka Michi, dan meminjamnya untuk bermain.
"Hey, kau kelinci putih ! Berikan kami boneka itu ! Kami ingin memainkannya." perintah sekumpulan anak beruang itu dengan kasarnya.
Karena mereka berkata dengan kasar, Michi ketakutan dan menolak mereka untuk meminjamkannya.
"Tidak mau.. ini boneka kesayanganku... " kata Michi sambil memeluk erat bonekanya.
"Ayolah, berikan pada kami boneka itu !" hentak mereka.
"Tidak ! Saya tidak akan memberikan boneka ini padamu." jawab Michi.
Karena jengkelnya, sekumpulan anak beruang itu pun merebutnya, dan mereka buat Flory menjadi barang lempar-lemparan layaknya bola.
"Heii.. jangan dilempar boneka itu.. sini kembalikan ... ! "kata Michi.
"Hah?! Buat apa kita kembalikan? Boneka ini milik kita ..., ya kan teman-teman?"
"Hahaha dasar pecundang ! " ucap mereka semua.
Mendengar hal ini, Michi sangatlah sedih dan tersinggung pada ucapan mereka. Bahkan, karena mereka terlalu berlebihan, boneka Michi pun akhirnya jatuh ke dalam laut.
"Oh tidak, Florykuuu...! Mengapa kalian tega-teganya melemparkan boneka kesayanganku? Dia sahabat terindahku yang pernah ku punya." kata Michi dengan deruan air mata yang menetesi pipinya.
"Apa?? Boneka itu sahabatmu? Kau sudah gila ya, sampai boneka itu kau jadikan sebagai seorang sahabat? Hahaha.. malang sekali , kau ! " ejek mereka dengan perkataan yang sangat membuat Michi tidak nyaman. Mereka pun pergi meninggalkan Michi sendirian.
"Ya Allah, Michi sangatlah sedih... Mereka sangat jahat pada Michi. Apa yang harus Michi lakukan untuk mengambil boneka Michi lagi? "
Setelah itu, Jiji dan Miko yang dari tadi bingung akan keberadaan Michi dimana, akhirnya Miko melihatnya.
"Lihat , itu Michi ! Mengapa dia menangis, Ji? " kata Miko dengan menunjuk ke arah Michi.
"Entah, aku juga tak tahu.. ayo kesana ! " seru Miko.
"Michii... sedang apa kau disini? Mengapa kau menangis? dan dimana Flory? " tanya mereka keheranan.
Lalu, Michi menjelaskannya dengan air mata yang masih menetes.
"Tadi ada sekumpulan anak beruang yang jahat padaku. Mereka merebut bonekaku dan melemparkannya kian kemari hingga akhirnya Flory terjatuh di dalam laut..."
"Lalu, apakah kita masih bisa menyelamatkan Flory? " jawab Jiji.
Michi tak menjawab. Ia hanya memandang bonekanya yang berada dijauhan.
"Lihat, Flory mengapung disana... Ia sangat jauh dari posisi kita." jawab Miko.
Jiji yang melihat wajah Michi menjadi turut sedih. Flory pun sudah semakin tak terlihat, bahkan hilang. . .
Tiba-tiba dari kejauhan...
"Anak-anak!! Ayo kita turun. Kita sudah sampai.." kata Paman Gober ke tiga anak tersebut. Lalu Jiji, Michi, dan Miko datang ke Paman Gober dan orang tua Michi dengan wajah yang muram. Lalu, Jiji menceritakan semua pada mereka. Orang tua Michi dan Paman Gober pun sangatlah sedih pula mendengar apa yang telah terjadi. Sejak saat itulah, Michi menjadi pendiam dan sering menangis. Bagaimana tidak, liburan yang dinanti-nantikan Michi bersama keluarganya amat tidak berarti tanpa kehadiran Flory. Michi pun jadi tak bersemangat lagi.
*Beberapa hari kemudian.....*
Yap, pada hari itu Michi dan keluarga sudah di rumah. Kemarin mereka telah berpamitan pada keluarga Paman Gober.
Kring !! Michi, ohayou ! Michi, ohayou !
Nada dering jam alarm Michi berbunyi. Michi pun bangun. Ia langsung mengeluarkan selembar kertas dan pena. Lalu, ia membuat puisi tentang kerinduannya pada Flory. Rupanya, dalam mimpimya ia bertemu dengan Flory.
Dalam puisinya, tertulis lah semua ungkapan hati Michi, yang berjudul Flory.
*FLORY*

Flory...
Akankah kau disini?
Menemani hariku lagi?
Apa kau baik-baik saja?
Setelah bencana mengenai kita?
Flory...
Ku ingin kita bersama
Berbagi cerita canda dan tawa
Senyumanmu yang ceria
Tak pernah ku lupa
Sepanjang masa
Flory, apa ini hanya sementara?
Kita berpisah sementara ataukah selamanya?
Namun ku yakin
Suatu hari kita kan bertemu lagi
Apa kau mendengarkan laguku ini?
Lagu yang pernah kita nyanyikan bersama...
Di pinggiran pantai sampai matahari senja...
-- Flory, ku kan selalu mengenangmu --
Begitulah puisi Michi. Ia menatapi foto-foto bersama Flory. Betapa indahnya kenangan yang mereka lalui. Ibu Michi yang dari tadi memperhatikannya, menghampirinya dan menghibur Michi.
"Ibu.... Mengapa Michi masih menangis, ya? Tadi Michi lihat Flory, kok, di mimpi Michi... " kata Michi.
Ibu tersenyum dan mengusap air mata anaknya dengan menjawab ,
"Michi, itu artinya kau sangat merindukan Florymu. Ibu tahu betapa sedihnya kamu. Kau hanya melewati kerasnya lautan... Dimana lautan itu harus kau tempuh dan hadapi. Percayalah, bahwa suatu hari kau akan bersamanya lagi. Percayalah... " kata Ibu yang seperti malaikat putih bagi Michi. Michi pun jadi semakin yakin.
"Terima kasih, Ibu. Michi jadi merasa lebih baik. Ibu selalu mengerti apa yang Michi butuh." kata Michi sambil merangkul ibunya.
"Iya, Michi... ibu juga merasa senang jika kamu senang" jawab ibu dengan senyuman lebar di bibirya.
*Beberapa tahun kemudian.....*
Ada seorang nenek yang sangat lemah dan miskin. Nenek itu bernama Nek Ruru, seekor Rusa tua. Ia tinggal di dekat Lautan Kodok. Rumahnya pun sudah tak layak lagi dipakai.
Suatu pagi, Michi bermain skateboard. Yap, ia mempunyai hobi baru. Ia mengelingi taman yang sangat indah. Tak sengaja, Michi bertemu dengan nenek Rusa tua, yang terlihat sedih memandangi bunga-bunga aster. Ia pun mendekati nenek tersebut.
"Nek, apa Anda baik-baik saja? Bolehkah saya tahu tentang Nenek? " tanya Michi dengan suara pelan.
Nenek tersebut tersenyum dan berkata,
"Nenek sedang sedih. Ya, boleh. Nama Nenek adalah Nek Ruru. Rumah Nenek ada di dekat Lautan Kodok. Akan tetapi, sekarang sudah roboh. Nenek tinggal di dekat taman ini." jawab Nenek pada Michi.
"Nama saya Michi, Nek. Saya tinggal agak jauh dari taman ini. Apa yang Nenek sedihkan?" tanya Michi kembali.
Nenek itu pun tak menjawabnya dan menunjukkan pada Michi foto-fotonya saat ia masih muda dengan segerombolan bunga aster di sekitarnya.
Lalu Nenek berkata,
"Itu kisah Nenek. Nenek sangat menyukai bunga aster itu yang indah pemberian kekasih nenek. Bunga aster tersebut bukanlah bunga aster biasa, karena ia mengambilnya di puncak gunung yang sangat tinggi. Namun, sekarang bunga aster itu telah tiada. Seseorang telah iri pada nenek dan mencurinya. Kekasih Nek Ruru pun telah tiada. Ia sakit dan meninggal satu tahun yang lalu. Sekarang, Nenek tinggal sendiri, dan hanya bisa memandang bunga aster di taman ini. " jelas Nenek yang membuat Michi turut sedih.
Lalu Michi berkata, "Dulu aku mempunyai boneka yang sangat menghiburku, Nek. Namanya Flory. Bagiku ia bukanlah boneka yang biasa, tetapi luar biasa. Ia sahabatku, Nek... namun , saat berada di kapal menuju Pulau Kodok, ada segerombolan anak beruang yang merebut bonekaku. Mereka melemparkannya kian kemari, hingga akhirnya Flory terjatuh dan menghilang." kata Michi sedih.
"Bentar-bentar... sepertinya nenek pernah menemukan boneka di pinggiran Pulau Kodok, Michi..." kata Nenek sambil mengecek tas merah yang terlihat tua itu.
"Benarkah itu, Nek? Kuraharap yang nenek maksud adalah Flory."
"Ya, ya.. ini dia ! Baju boneka ini bertuliskan Flory..." kata Nenek dengan riangnya.
"Floryyyy!!!!!!!! Nek, apa aku sedang mimpi, Nek? coba cubit pipiku Nek.. apa aku sedang berada di dunia mimpi??" kata Michi tak percaya.
"Aaaaww.. sakit lah, Nek !" lanjutnya.
"Hehehe.. kan Nenek cuma nurutin perintahmu.." sahut Nenek.
"Ya Allah.... terimakasih. Kau telah mempertemukan ku lagi dengan Flory..:) " kata Michi dengan memeluk erat bonekanya.
Boneka itu terlihat masih terawat bahkan lebih indah, karena terdapat kalung bunga aster yang mengelilingi lehernya.
"Syukurlah, kalau kau sudah menemukannya. Boneka itu nenek temukan 2 minggu yang lalu di pinggiran Pulau Kodok dengan kondisi yang sangat buruk. Lalu, nenek perbaiki dan merawatnya. Rupanya bonekamu telah berjuang bertahan dari kerasnya lautan." kata Nenek.
Lalu, Michi terdiam. Ia teringat dengan apa yang dikatakan oleh ibunya kini lah benar, bahwa ia dan bonekanya hanyalah bertarung dengan kerasnya lautan. Michi pun senang dan memeluk Nek Ruru bersama bonekanya.
"Nek, terima kasih.. Kau telah menjaga baik bonekaku. Michi merasa sangaaat senang... Nek, Michi lebih senang lagi jika nenek tinggal bersama Michi. Orang tua Michi pasti senang dengan kehadiran Nenek dan Flory. Maukah Nenek tinggal bersama kami?" kata Michi.
"Nak, kau memang anak yang baik. Baiklah kalau Michi ingin begitu, Nenek akan menerimanya dengan senang hati." kata Nenek dengan senyuman lebarnya.
"Horeeee! Ayo, Nek ! Aku tunjukkan jalannya."girang Michi.
Sampai di rumah, Michi menceritakan semuanya kepada kedua orang tuanya.Mereka pun merasa berterimakasih pada Nek Ruru, yang telah merawat Flory dengan baik. Bahkan sejak saat itu, Michi kembali periang dan tidaklah murung lagi. Mereka pun tidak berkeberatan untuk menerima Nek Ruru tinggal bersama.
Sejak saat itu, Nek Ruru dan Michi sering bermain bersama Flory. Nek Ruru pun senang mengajari bagaimana cara berkebun. Mereka selalu berkebun setiap Minggu. Bagi Michi, Nek Ruru mengajarkannya pelajaran yang sangat penting tentang kepedulian kita terhadap alam. Ia mengajarinya bagaimana berkebun dengan benar, menyayangi tumbuhan layaknya Flory, menyiram dan memberi pupuk.
Sekian berjalan waktu, Nek Ruru jatuh sakit. Ia dirawat di rumah sakit untuk para hewan. Michi pun sangat sedih dengan keadaan Nek Ruru. Ia juga berdo'a agar Nenek cepat sembuh.
"Nek, apa yang harus Michi lakukan agar Nenek bisa tetap senang?" tanya Michi pada Nek Ruru yang terbaring lemah. Sang Nenek tersenyum dan menjawab,
"Kau pasti tahu jawabannya nanti," dengan suara serak.
Nek Ruru pun melihat segelas air disampingnya. Ia ingin menyiramnya sendiri bunga aster yang berada di luar ruang lewat jendela.
"Nek, biar Michi saja yang menyiramnya..." gemetar Michi.
"Jangan, Michi... Nenek ingin melakukannya sendiri, mungkin untuk terakhir kalinya." jawab Nenek yang membawa segelas air itu ke luar ruangan.
Setelah menyiram, nenek berkata, "Bunga itu akan bersinar, setelah kita memberinya kepedulian." kata Sang Nenek.
Michi terpukau. Ia juga sudah mengerti jawabannya, bahwa ia harus peduli pada lingkungan untuk membuat Nek Ruru senang. Lalu, mereka kembali ke tempat mereka lagi.
"Nek, terimakasih karena kau telah mengajariku banyak hal." kata Michi.
Nenek tersenyum dan meneteskan air mata.
"Michi.. jadilah kelinci kecil nenek yang selalu riang, ramah, dan tabah." kata Nenek.
Setelah itu, nenek menutup matanya. Tak lama kemudian, Michi menyadari bahwa itulah kata-kata terakhir Nenek yang ia dengar.
"Nenek..? Nek Ruru..? Nek...?" panggil Michi berulang-ulang.
Si Dokter Bon Bon yang dari tadi melihat dan mendengarkan pembicaraan mereka menjelaskan pada Michi bahwa neneknya telah meninggal. Setelah dokter berkata begitu, Michi sangaaaat sedih... ia tak bisa percaya bahwa kata-kata indahnya tersebut berakhir kesedihan. Michi pun memeluk erat Nek Ruru, dan membisikkan padanya, "Nek, Michi sangat sayang pada Nenek."
Segeralah dokter memberi tahu keluarga Michi dan perawat lainnya. Setelah mendengar perkataan dokter, orang tua Michi juga sangat sedih. Mereka berturut berduka cita atas kepergian Nenek Ruru. Perlahan tapi pasti, Ibu Michi mendekatinya.
"Michi,meskipun Nenek Ruru telah tiada, ingatlah selalu perkataan indahnya padamu." kata Ibu.
"Iiibu..."jawab Michi dengan setetes air mata dan pelukan hangat ibu membelainya.
Michi pun bangkit, dan tak ingin lama bersedih. Ia yakin bahwa Nenek telah menjadi cahaya di musim semi dari bunga-bunga aster yang disiramnya.
"Ya. Dia telah menjadi cahaya. Terima kasih Nek Ruru :'( " kata Michi di hatinya yang dalam.

>>-------------------The End--------------------<<by : Alsy Taqiya Herasafitri.
#gomenne kalau terlalu aneh , wkwk.. saya buat blog ini harena pada pertamanya, guru bahasa Indonesia saya menyuruh saya dan teman-teman saya membuat blog yang isinya karya cipta cerpen seperti ini . :D
Boneka Kesayangan Michi o(^▽^)o
Tag :
Cerpen (Short Stories)
Read Post : Boneka Kesayangan Michi o(^▽^)oNov 23, 2014
Author : Alsy Taqiya
Comments : 0
Tag :
Cerpen (Short Stories)
Read Post : Boneka Kesayangan Michi o(^▽^)oNov 23, 2014
Navigation






